WAKTU

KOLEKSI BUKU

Selasa, 09 November 2010

SELAPUT DARA LASTRI


Telah Terbit Buku Antologi Cerpen
Judul: SELAPUT DARA LASTRI
Penulis: Edy Firmansyah
Jenis Buku: fiksi/kumpulan cerpen
Tebal : iv + 100 Halaman
Harga: Rp. 25.000,- (sudah termasuk ongkos kirim)












Sudah tak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat bipolar. masyarakat yang terkotak-kotak secara struktur sosial. ya kehidupan kaya dan miskin dengan segala pola tingkah masyarakatnya. Nah buku ini mencoba menggambarkan kehidupan bipolar masyarakat itu. dalam Selaput Dara Lastri, misalnya, penulisnya mencoba mengkritik kehidupan orang kaya yang tidak percaya diri akan kecantikannya dan kemunafikan orang-orang beragama.

Dalam kentut-kentut cinta dan Siang kelabu yang juga terangkum dalam kumpulan cerpen ini begitu tegas bagaimana kemunafikan kaum agamawan diungkap.

sementara itu dalam cerpen "Menunggu Ijah Pulang", "Balada Suratmi" dan "Sumpah Pocong" Penulisnya mencoba menceritakan penderitaan hidup masyarakat miskin ditengah gelimangan kekayaan orangorang kaya yang selalu menari-nari diatas penderitaan sesamanya. (ogi)

Selasa, 20 Oktober 2009

Salju, Jilbab, Turki

Salju, Jilbab dan Gelombang Kebangkitan Turki


Judul : Snow: Dibalik Keheningan Salju
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 731 Halaman


Menurut Ajib Rosidi para pengarang yang selalu menggunakan latar budaya besar dan secara konsisten menghembuskan aroma kemanusiaan pada gilirannya akan mendapatkan Nobel Sastra. Kita saksikan misalnya dengan latar budaya Jepang (Kawabata Yasunari, 1968; Oe Kenzaburo, 1994), dengan latar budaya Arab Islam (Najib Mahfudz, 1988), dengan latar budaya Hitam Afrika (Wole Soyinka, 1986), latar budaya Cina (Gao Xingjian). Barangkali berdasarkan pandangan ini, tidak berlebihan jika akhirnya panitia Nobel sastra memilih Ferit Orhan Pamuk—seorang sastrawan Turki yang masyhur dengan novelnya Benim Adim Kirmizi (1998), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Erdag M. Goknar sebagai My Name is Red pada 2001—sebagai peraih nobel sastra 2006.

Novel-novel yang lahir dari tangan dingin Pamuk memang unik. Selain kental dengan budaya Turki juga bercirikan kegamangan atau hilangnya identitas yang sebagian ditimbulkan oleh konflik antara nilai-nilai Eropa dan Islam. Karya-karyanya kerap menggelisahkan, dengan plot yang rumit dan memikat, serta penokohan yang kuat. Seperti dalam Novel terakhir Pamuk berjudul Snow (versi aslinya berjudul Kar) ini.

Seperti halnya dalam My Name is Red, dalam Snow Pamuk mencoba mendialogkan peradaban Barat dan Timur dengan segala kompleksitas persoalannya, yang acap menjadi pemicu konflik global hingga kini. dalam Snow Pamuk mampu mengolah persoalan Turki dengan karakter kuat melalui jamuan thriller, cinta yang hampa, harapan yang semu, dan kegamangan posisi pemerintah dalam berkiblat; apakah mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, atau bertekuk lutut dalam derap modernisasi ala Eropa. Kesemuanya itu dikemas dengan spirit peradaban universal dan humanisme yang kuat.

Kisah dalam Snow berlangsung di Kars, sebuah kota kecil yang selalu tampak seperti kapas dengan cuaca dingin dan badai salju di Anatolia. Melalui tokoh Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka), seorang penyair dan wartawan, yang pulang ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun, Pamuk mulai memilin ceritanya. Ka datang ke Kars selain meliput pemilihan kepala daerah yang mencekam dan menakutkan warga karena intimidasi dan kekerasan terjadi; juga untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salah satunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.

Perihal larangan berjilbab itu sebenarnya adalah peraturan nasional Turki tentang pendidikan yang melarang siswa berjilbab di institusi pendidikan. Sebuah peraturan berbau sekulerisme, sebuah ide yang digagas sang Bapak Turki, Mustafa Kemal Pasha, atau lebih dikenal sebagai Kemal Attaturk. Dan melalui novel ini Pamuk seperti hendak menegaskan bahwa politik kerap mengesampingkan semangat kemanusiaan. Politik hanya berpikir dengan kacamata kuda; meraih kekuasaan. Dan novel ini hendak menunjukkan pada dunia bahwa ambisi-ambisi kekuasaan hanya akan melahirkan anomali sosial yang timpang bahkan mengerikan.

Ceritapun berlanjut. Melalui penyelidikan kasus bunuh diri yang meruyak di Kars, Pamuk dengan lihai membawa Ka dalam sebuah kelindan konflik yang rumit. Perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.

Dengan cukup anggun Pamuk memilin ceritanya dan memasukkan pertentangan timur dan barat. Para perempuan yang memilih mempertahankan jilbabnya ’terpaksa’ bunuh diri untuk menjaga kehormatan mereka. Sementara mereka yang melepas jilbabnya justru diintimidasi dan diteror kaum agamawan konservatif.

Membaca novel Pamuk ini mengingatkan kita pada negeri sendiri. Pada zaman orde baru kita pernah disuguhkan kebijakan kontroversial yang melarang anak-anak sekolah mengenakan jilbab. Sama dengan di Turki pada masa orde baru anak-anak perempuan yang memilih mempertahankan jilbabnya akan dikucilkan dari sekolah bahkan dikeluarkan. Para perempuan-perempuan belia yang mempertahankan jilbabnya itu akan dituduh sebagai oknum yang telah dipengaruhi anasir-anasir Revolusi Irannya Ayatullah Khomeini. Maklum saja, Orde baru memang sangat alergi dengan ’revolusi.’ Meski Soeharto-pun akhirnya tumbang oleh ketakutannya sendiri; gerakan massa (baca: revolusi).

Zaman memang telah berubah. Tapi pakaian bisa saja dipolitikkan. Buktinya, hari-hari ini kita menyaksikan kebijakan-kebijakan sekolah di sebagian daerah (dengan semangat otonomi-nya) ’mewajibkan’ siswa-siswa perempuan untuk mengenakan jilbab selama bersekolah atau beraktivitas di lingkungan sekolah. Kita seakan sedang menyaksikan upaya penyeragaman atas dalih ’agama.’ Barangkali awalnya hanya pakaian yang diseragamkan, tapi lama-lama otak dan hati anak-anakpun dipaksa seragam untuk kepentingan negara. Dan korbannya paling banyak memang perempuan. Karena itu Pamuk dalam Snow menegaskan dengan satir; laki-laki tidak takut pada kecerdasan perempuan. Laki-laki hanya takut pada kebebasan perempuan.

Bagian akhir novel ini ditutup dengan adegan teater berjudul Tragedi di Kars yang terinspirasi dari The Spanish Tragedy karya Thomas Kyd. Dalam babak akhir teater ini diceritakan tentang Kadife yang melepaskan jilbabnya diatas panggung. Larangan dan argumen-argumen Sunay yang bereran sebagai politikus Islam garis keras mengenai betapa bahayanya melepaskan jilbab ditepisnya. Kadife benar-benar melepaskan jilbabnya. Tak hanya itu. Ia juga menembak Sunay dengan pistol kirikkele.

Tapi sebagaimana umumnya cerita realis, novel ini tidak menyuguhkan tokoh utama sebagai pemenang. Justru Pamuk menyeretnya dalam lipatan konflik yang tak berkesudahan. Dan dikemas dengan jalinan politik, sosial, budaya, thriller yang apik. Pantas saja Novel terakhir Pamuk ini (diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai Snow, 2004), meraih Prix Midicis untuk Novel terjemahan terbaik yang terbit di Perancis pada 2005. Sungguh novel yang layak dibaca!

Jumat, 20 Maret 2009

Krisis Buku Baru, Ah Nggak Juga!

Krisis Buku Baru? Ah..Nggak Juga!

Sejatinya saya bukanlah penulis resensi buku yang konsisten. Awal mula meresensi buku sebenarnya karena ikut-ikutan. Dibanding penulis resensi lainnya, saya pantai dogolongkan penulis resensi buku yang masih bayi. Baru mulai menulis resensi pada medio 2007. Sebagai penulis resensi yang angin-anginan, wajar jika kemudian kerap ‘kehabisan buku.’

Bahkan awal 2009 ini stok buku baru saya habis. Sebelumnya saya memang rutin belanja satu dua buku ke Surabaya (jika ada waktu). Buku baru yang saya beli itu kemudian saya resensi dan dikirim ke media massa. Ada yang dimuat. Tapi banyak juga yang ditolak (maklum amatiran).

Parahnya lagi, tahun ini saya benar-benar tak punya waktu untuk membeli buku baru apalagi menulis resensi buku ke koran. Saya justru lebih sering menulis opini (walaupun nasibnya kurang lebih sama; ada yang dimuat, banyak yang ditolak. He..). disamping itu kegiatan rutin juga mulai padat.

Namun bukan berarti di kampung saya tidak ada toko buku. Setidaknya ada dua toko buku yang masih ‘bertahan’ (sebenarnya ada tiga, tapi yang satu ini sudah kolap). Tapi jarang menyediakan buku-buku terbitan terbaru. Yang ada justru buku terbitan lama, tapi baru aja nangkring di etalase toko buku itu.

Sebenarnya pada Februari lalu, saya sempat juga keluar kota. Tepatnya ke Sukoharjo, Jawa Tengah, menghadiri pernikahan Adik saya. Rencananya sih, mau sekalian belanja buku. Tapi kegiatan yang padat membuat saya lupa pada rencana itu.

Karenanya ketika kawan saya Nurani Soyomukti, mengirimkan sms perihal buku barunya yang telah beredar di pasaran, saya langsung ‘mengemis’ agar dikirimi buku gratis. Lama saya tunggu, ternyata sms saya justru tak berbalas.

Tapi syukurlah kondisi ini tidak berlangsung lama. Pada awal Maret, saya mendapatkan kiriman buku baru dari INSIST PRESS dan RESIST BOOK. Buku tersebut antara lain;



1. Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis, karya David Harvey, (Yogyakarta: Resist Book, Januari 2009)
2. Memahami Teori Kritis, karya Stuart Sim dan Borin van Loon (Yogyakarta: Resist Book, Desember 2008)
3. Art Under Pressure; Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi, karya Joost Smiers (Yogyakarta; Insist Press, Pebruari 2009)
4. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, karya Mansour Fakih (Yogyakarta; Insist Press, Januari 2009)

Tentu saja buku-buku diatas tak datang dengan sendirinya. Juga tak akan datang meski anda berdo’a siang malam hingga kurus dan berjambang. Buku-buku tersebut buah dari proses saya dalam menulis resensi buku di media massa. Sekedar diketahui buku pertama yang saya resensi (dan dimuat di media massa) adalah buku terbitan Insist Press. Atas saran dari beberapa kawan yang pernah menulis resensi kliping resensi buku kemudian saya kirim pada penerbit. Dan sejak itu pula tiap kali Insist Press menerbitkan buku baru, saya mendapatkan "jatah" (Meskipun saat ini saya mulai jarang menulis resensi buku untuk Insist)

Tapi jangan senang dulu. Memang bisa dikatakan kiriman buku itu sebagai tanda terima kasih telah mempromosikan buku milik penerbit. Seperti Penerbit Resist misalnya. Menurut pengalaman saya, Resist tidak akan mengirimkan buku baru, jika anda tidak mengirimkan kliping resensi buku terbaru yang dimuat di media. Boleh jadi pandangan saya tentang penerbit berlambang api ini keliru. Sebab, menurut cerita kawan-kawan, tiap-tiap penerbit-penerbit telah memiliki peresensi-peresensi tetap yang selalu dikirimi buku baru. Bahkan kadang honor, jika resensinya berhasil tembus media nasional.

Jujur saja saya belum pernah mendapatkan perlakukan istimewa semacam dari penerbit (pengen juga sich, tapi kapan ya?). Namun yang pasti tiap anda mendapatkan buku baru dari penerbit anda sebenarnya secara tidak tertulis telah memulai kontrak kerjasama antara penerbit dan peresensi agar terus mempromosikan buku-buku tersebut. Karena itulah, melalui blog ini saya juga ‘mencoba’ melakukan hal yang sama. Berterima kasih telah mendapatkan buku-buku baru sekaligus mengenalkan buku-buku baru tersebut pada pembaca. Selanjutnya terserah anda. (Edy Firmansyah)