WAKTU

KOLEKSI BUKU

Rabu, 22 Desember 2010

Review: SELAPUT DARA LASTRI


Oleh: Vira Cla

Calon Dokter Gigi, Penulis buku Lajang Jalang

Berawal dari usulan barter buku, akhirnya saya menerima kiriman satu buah buku antologi ‘Selaput Dara Lastri’. Ada 15 cerpen yang semuanya ditulis oleh Edy Firmansyah yang mengusulkan untuk barter buku yang diterbitkan indie ini. Sama seperti saya yang juga menerbitkan indie buku kumpulan cerpen saya ‘Lajang Jalang’. Sampai saya menuliskan ini, buku saya pasti sedang dalam perjalananan ke Madura, karena di sanalah Mas Edy berdomisili.


Dari judul buku, saya bisa melihat kesamaannya dengan buku saya, sedikit berbau seks. Sempat kepikiran kalau tulisannya Mas Edy beraliran ’sastra selangkangan’ seperti tulisan saya. Lalu, saya buka lembar pertama, judul buku ternyata diambil dari judul cerpen pertama dalam antologi ini. Cerpen ‘Selaput Dara Lastri’ yang pernah dimuat di surat kabar lokal Surabaya bercerita tentang keperawanan. Sampai jaman sekarang, masih saja orang-orang memaknai sempit arti keperawanan. Di dalam cerpen ini, bisa ditemukan dialog-dialog yang mencerahkan, tapi hati-hati, bisa jadi juga menjerumuskan kaum perempuan maupun lelaki.

“Sudahlah, tak perlu risau. Apalah arti selaput dara di zaman modern ini. Selaput dara hanyalah konstruksi sosial masyarakat feodal/kapitalisme yang menindas. Ia hanyalah simbol kebengisan laki-laki dalam memarginalkan posisi perempuan secara politis. Robeknya selaput dara di malam pertama yang disakralkan itu hanyalah pelanggeng akan kekuasaan lelaki yang represif dan antikeadilan. Buktinya, mengapa tidak ada tes keperjakaan jika memang keadilan gender mau ditegakkan di negeri ini? Mengapa hanya ada tes keperawanan? Lalu di mana posisi keberadilan agar perempuan bisa mendepak laki-laki jika ketahuan tidak perjaka sebagaimana halnya laki-laki menyampahkan perempuan ketika terbukti tidak perawan. “

Lastri, tokoh utama yang berkonflik batin tentang selaput daranya, tetap dengan pendiriannya bahwa darah perawan penting di malam pertama. Namun, pada akhirnya, tulisan ini berakhir dengan ironi. Dan banyak lagi cerpen dengan akhir yang tak terduga, membuat kita sebagai pembaca menghela napas panjang. Kegetiran dari setiap cerpen disampaikan secara gamblang.


Setelah beberapa cerpen saya baca tuntas, saya bisa menilai bahwa antologi cerpen ini bukan seperti cerpen-cerpen saya di Lajang Jalang. Mungkin judulnya saja yang sedikit ‘berani’. Isinya pun juga lebih ‘berani’, bukan dalam hal ‘mengumbar syahwat’, tapi tentang kenyataan. Membaca cerpen ini seperti membaca gambaran Indonesia beberapa tahun terakhir. Ceritanya realis. Seperti yang tertulis dalam salah satu cerpen berjudul ‘Cerpen Nam’,

“Betapa tidak, Nam adalah penulis cerpen realis. Cerpen-cerpen Nam adalah cerita pendek yang berkisah tentang kemiskinan, penindasan dan diskriminasi.”

Mungkin karena penulis juga seorang jurnalis yang tak jauh dari berita-berita miris tentang kehidupan sehari-hari.Mulai dari orang miskin yang sakit, aktivis yang digebuk polisi, kebrutalan satpol PP, pembantu/TKW yang disiksa, sampai perselingkuhan dan ‘Sumpah Pocong’ pun diceritakan dalam antologi Selaput Dara Lastri. Saya sendiri seperti baca koran, tapi tenang saja, penulisnya berhasil meramu kata-kata menjadikannya cerita fiksi yang bisa dinikmati dengan akhir cerita yang menggugah, bisa bikin sedih, geram, dan senyum kulum. Hehehe…


Selain itu, ada juga cerita yang ‘mendongeng’, seperti dalam cerpen ‘Siang Kelabu’ dan ‘Ujian Sekolah’. Dua cerpen yang berbeda cerita, tapi ternyata salah satu tokoh ada di kedua cerita. Mau cerita yang lebih dongeng lagi juga ada di cerpen terakhir dalam antologi ini, ‘Dongeng Sebelum Tidur’. Sekumpulan dongeng yang populer diceritakan sangat singkat dengan dibumbui ‘kegetiran’ ala Edy Firmansyah, namun juga menghibur.


Demikian saja saya tuliskan review buku antologi berjumlah 100 halaman ini. Bagi yang berminat baca buku ini bisa beli sendiri bukunya. Jangan pinjam sama saya! Hahaha…

(Sumber: http://hiburan.kompasiana.com/buku/2010/12/21/review-selaput-dara-lastri/)


Berminat dengan buku ini? Murah Saja. Hanya Rp. 25.000,-(Sudah termasuk ongkos kirim). CP: 081937381133 atau email: stapers2002@yahoo.com

Selasa, 09 November 2010

SELAPUT DARA LASTRI


Telah Terbit Buku Antologi Cerpen
Judul: SELAPUT DARA LASTRI
Penulis: Edy Firmansyah
Jenis Buku: fiksi/kumpulan cerpen
Tebal : iv + 100 Halaman
Harga: Rp. 25.000,- (sudah termasuk ongkos kirim)












Sudah tak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat bipolar. masyarakat yang terkotak-kotak secara struktur sosial. ya kehidupan kaya dan miskin dengan segala pola tingkah masyarakatnya. Nah buku ini mencoba menggambarkan kehidupan bipolar masyarakat itu. dalam Selaput Dara Lastri, misalnya, penulisnya mencoba mengkritik kehidupan orang kaya yang tidak percaya diri akan kecantikannya dan kemunafikan orang-orang beragama.

Dalam kentut-kentut cinta dan Siang kelabu yang juga terangkum dalam kumpulan cerpen ini begitu tegas bagaimana kemunafikan kaum agamawan diungkap.

sementara itu dalam cerpen "Menunggu Ijah Pulang", "Balada Suratmi" dan "Sumpah Pocong" Penulisnya mencoba menceritakan penderitaan hidup masyarakat miskin ditengah gelimangan kekayaan orangorang kaya yang selalu menari-nari diatas penderitaan sesamanya. (ogi)

Selasa, 20 Oktober 2009

Salju, Jilbab, Turki

Salju, Jilbab dan Gelombang Kebangkitan Turki


Judul : Snow: Dibalik Keheningan Salju
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 731 Halaman


Menurut Ajib Rosidi para pengarang yang selalu menggunakan latar budaya besar dan secara konsisten menghembuskan aroma kemanusiaan pada gilirannya akan mendapatkan Nobel Sastra. Kita saksikan misalnya dengan latar budaya Jepang (Kawabata Yasunari, 1968; Oe Kenzaburo, 1994), dengan latar budaya Arab Islam (Najib Mahfudz, 1988), dengan latar budaya Hitam Afrika (Wole Soyinka, 1986), latar budaya Cina (Gao Xingjian). Barangkali berdasarkan pandangan ini, tidak berlebihan jika akhirnya panitia Nobel sastra memilih Ferit Orhan Pamuk—seorang sastrawan Turki yang masyhur dengan novelnya Benim Adim Kirmizi (1998), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Erdag M. Goknar sebagai My Name is Red pada 2001—sebagai peraih nobel sastra 2006.

Novel-novel yang lahir dari tangan dingin Pamuk memang unik. Selain kental dengan budaya Turki juga bercirikan kegamangan atau hilangnya identitas yang sebagian ditimbulkan oleh konflik antara nilai-nilai Eropa dan Islam. Karya-karyanya kerap menggelisahkan, dengan plot yang rumit dan memikat, serta penokohan yang kuat. Seperti dalam Novel terakhir Pamuk berjudul Snow (versi aslinya berjudul Kar) ini.

Seperti halnya dalam My Name is Red, dalam Snow Pamuk mencoba mendialogkan peradaban Barat dan Timur dengan segala kompleksitas persoalannya, yang acap menjadi pemicu konflik global hingga kini. dalam Snow Pamuk mampu mengolah persoalan Turki dengan karakter kuat melalui jamuan thriller, cinta yang hampa, harapan yang semu, dan kegamangan posisi pemerintah dalam berkiblat; apakah mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, atau bertekuk lutut dalam derap modernisasi ala Eropa. Kesemuanya itu dikemas dengan spirit peradaban universal dan humanisme yang kuat.

Kisah dalam Snow berlangsung di Kars, sebuah kota kecil yang selalu tampak seperti kapas dengan cuaca dingin dan badai salju di Anatolia. Melalui tokoh Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka), seorang penyair dan wartawan, yang pulang ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun, Pamuk mulai memilin ceritanya. Ka datang ke Kars selain meliput pemilihan kepala daerah yang mencekam dan menakutkan warga karena intimidasi dan kekerasan terjadi; juga untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salah satunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.

Perihal larangan berjilbab itu sebenarnya adalah peraturan nasional Turki tentang pendidikan yang melarang siswa berjilbab di institusi pendidikan. Sebuah peraturan berbau sekulerisme, sebuah ide yang digagas sang Bapak Turki, Mustafa Kemal Pasha, atau lebih dikenal sebagai Kemal Attaturk. Dan melalui novel ini Pamuk seperti hendak menegaskan bahwa politik kerap mengesampingkan semangat kemanusiaan. Politik hanya berpikir dengan kacamata kuda; meraih kekuasaan. Dan novel ini hendak menunjukkan pada dunia bahwa ambisi-ambisi kekuasaan hanya akan melahirkan anomali sosial yang timpang bahkan mengerikan.

Ceritapun berlanjut. Melalui penyelidikan kasus bunuh diri yang meruyak di Kars, Pamuk dengan lihai membawa Ka dalam sebuah kelindan konflik yang rumit. Perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.

Dengan cukup anggun Pamuk memilin ceritanya dan memasukkan pertentangan timur dan barat. Para perempuan yang memilih mempertahankan jilbabnya ’terpaksa’ bunuh diri untuk menjaga kehormatan mereka. Sementara mereka yang melepas jilbabnya justru diintimidasi dan diteror kaum agamawan konservatif.

Membaca novel Pamuk ini mengingatkan kita pada negeri sendiri. Pada zaman orde baru kita pernah disuguhkan kebijakan kontroversial yang melarang anak-anak sekolah mengenakan jilbab. Sama dengan di Turki pada masa orde baru anak-anak perempuan yang memilih mempertahankan jilbabnya akan dikucilkan dari sekolah bahkan dikeluarkan. Para perempuan-perempuan belia yang mempertahankan jilbabnya itu akan dituduh sebagai oknum yang telah dipengaruhi anasir-anasir Revolusi Irannya Ayatullah Khomeini. Maklum saja, Orde baru memang sangat alergi dengan ’revolusi.’ Meski Soeharto-pun akhirnya tumbang oleh ketakutannya sendiri; gerakan massa (baca: revolusi).

Zaman memang telah berubah. Tapi pakaian bisa saja dipolitikkan. Buktinya, hari-hari ini kita menyaksikan kebijakan-kebijakan sekolah di sebagian daerah (dengan semangat otonomi-nya) ’mewajibkan’ siswa-siswa perempuan untuk mengenakan jilbab selama bersekolah atau beraktivitas di lingkungan sekolah. Kita seakan sedang menyaksikan upaya penyeragaman atas dalih ’agama.’ Barangkali awalnya hanya pakaian yang diseragamkan, tapi lama-lama otak dan hati anak-anakpun dipaksa seragam untuk kepentingan negara. Dan korbannya paling banyak memang perempuan. Karena itu Pamuk dalam Snow menegaskan dengan satir; laki-laki tidak takut pada kecerdasan perempuan. Laki-laki hanya takut pada kebebasan perempuan.

Bagian akhir novel ini ditutup dengan adegan teater berjudul Tragedi di Kars yang terinspirasi dari The Spanish Tragedy karya Thomas Kyd. Dalam babak akhir teater ini diceritakan tentang Kadife yang melepaskan jilbabnya diatas panggung. Larangan dan argumen-argumen Sunay yang bereran sebagai politikus Islam garis keras mengenai betapa bahayanya melepaskan jilbab ditepisnya. Kadife benar-benar melepaskan jilbabnya. Tak hanya itu. Ia juga menembak Sunay dengan pistol kirikkele.

Tapi sebagaimana umumnya cerita realis, novel ini tidak menyuguhkan tokoh utama sebagai pemenang. Justru Pamuk menyeretnya dalam lipatan konflik yang tak berkesudahan. Dan dikemas dengan jalinan politik, sosial, budaya, thriller yang apik. Pantas saja Novel terakhir Pamuk ini (diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai Snow, 2004), meraih Prix Midicis untuk Novel terjemahan terbaik yang terbit di Perancis pada 2005. Sungguh novel yang layak dibaca!