WAKTU

KOLEKSI BUKU

Selasa, 20 Oktober 2009

Salju, Jilbab, Turki

Salju, Jilbab dan Gelombang Kebangkitan Turki


Judul : Snow: Dibalik Keheningan Salju
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, April 2008
Tebal : 731 Halaman


Menurut Ajib Rosidi para pengarang yang selalu menggunakan latar budaya besar dan secara konsisten menghembuskan aroma kemanusiaan pada gilirannya akan mendapatkan Nobel Sastra. Kita saksikan misalnya dengan latar budaya Jepang (Kawabata Yasunari, 1968; Oe Kenzaburo, 1994), dengan latar budaya Arab Islam (Najib Mahfudz, 1988), dengan latar budaya Hitam Afrika (Wole Soyinka, 1986), latar budaya Cina (Gao Xingjian). Barangkali berdasarkan pandangan ini, tidak berlebihan jika akhirnya panitia Nobel sastra memilih Ferit Orhan Pamuk—seorang sastrawan Turki yang masyhur dengan novelnya Benim Adim Kirmizi (1998), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Erdag M. Goknar sebagai My Name is Red pada 2001—sebagai peraih nobel sastra 2006.

Novel-novel yang lahir dari tangan dingin Pamuk memang unik. Selain kental dengan budaya Turki juga bercirikan kegamangan atau hilangnya identitas yang sebagian ditimbulkan oleh konflik antara nilai-nilai Eropa dan Islam. Karya-karyanya kerap menggelisahkan, dengan plot yang rumit dan memikat, serta penokohan yang kuat. Seperti dalam Novel terakhir Pamuk berjudul Snow (versi aslinya berjudul Kar) ini.

Seperti halnya dalam My Name is Red, dalam Snow Pamuk mencoba mendialogkan peradaban Barat dan Timur dengan segala kompleksitas persoalannya, yang acap menjadi pemicu konflik global hingga kini. dalam Snow Pamuk mampu mengolah persoalan Turki dengan karakter kuat melalui jamuan thriller, cinta yang hampa, harapan yang semu, dan kegamangan posisi pemerintah dalam berkiblat; apakah mengembalikan kejayaan Ottoman Empire yang pernah tercatat dalam sejarah, atau bertekuk lutut dalam derap modernisasi ala Eropa. Kesemuanya itu dikemas dengan spirit peradaban universal dan humanisme yang kuat.

Kisah dalam Snow berlangsung di Kars, sebuah kota kecil yang selalu tampak seperti kapas dengan cuaca dingin dan badai salju di Anatolia. Melalui tokoh Kerim Alakusoglu (Pamuk menggunakan inisial; Ka), seorang penyair dan wartawan, yang pulang ke Istambul setelah terbuang ke Jerman selama 12 tahun, Pamuk mulai memilin ceritanya. Ka datang ke Kars selain meliput pemilihan kepala daerah yang mencekam dan menakutkan warga karena intimidasi dan kekerasan terjadi; juga untuk menyelidiki sejumlah kasus bunuh diri di kalangan gadis-gadis muda kota itu. Salah satunya Teslime, siswi madrasah aliah yang bunuh diri karena kecewa dengan peraturan sekolah yang melarang siswi-siswinya mengenakan jilbab. Bila larangan itu diabaikan, Teslime dan kawan-kawan akan diusir dari ruang kelas. Orangtua Teslime sudah berkali-kali menasehati agar ia mematuhi larangan itu, mencopot jilbabnya, hingga ia tetap bisa bersekolah. Tapi, Teslime bersikukuh mempertahankan jilbabnya. Pada suatu malam, ia berwudlu, dan shalat di kamarnya. Selesai shalat, ia mengikatkan jilbabnya ke cantolan lampu, dan gantung diri.

Perihal larangan berjilbab itu sebenarnya adalah peraturan nasional Turki tentang pendidikan yang melarang siswa berjilbab di institusi pendidikan. Sebuah peraturan berbau sekulerisme, sebuah ide yang digagas sang Bapak Turki, Mustafa Kemal Pasha, atau lebih dikenal sebagai Kemal Attaturk. Dan melalui novel ini Pamuk seperti hendak menegaskan bahwa politik kerap mengesampingkan semangat kemanusiaan. Politik hanya berpikir dengan kacamata kuda; meraih kekuasaan. Dan novel ini hendak menunjukkan pada dunia bahwa ambisi-ambisi kekuasaan hanya akan melahirkan anomali sosial yang timpang bahkan mengerikan.

Ceritapun berlanjut. Melalui penyelidikan kasus bunuh diri yang meruyak di Kars, Pamuk dengan lihai membawa Ka dalam sebuah kelindan konflik yang rumit. Perbenturan antara militer pro pemerintahan sekuler, kelompok Islam garis keras dan nasionalis Kurdi yang sedang mencuat sebelum pemilihan walikota Kars. Para penghamba Ataturk menunggangi kasus bunuh diri gadis-gadis muda Kars untuk menghantam kelompok Islam yang menurut mereka tidak mampu menyelamatkan para pengikutnya dari tindakan konyol yang sudah pasti berujung di kerak Neraka. Ka makin sulit melepaskan diri dari lingkaran perseteruan itu sejak ia (secara kebetulan) menyaksikan pembunuhan seorang direktur Institut Pendidikan. Desas-desus pun bergulir, lelaki itu ditembak, karena ia orang pertama yang mengesahkan peraturan pelarangan jilbab. Pemimpin redaksi surat kabar lokal, Border City News, Serday Bey, diintimidasi oleh kelompok tertentu agar ia membangun opini publik bahwa pelaku pembunuhan itu tidak lain adalah kaki tangan Lazuardi.

Dengan cukup anggun Pamuk memilin ceritanya dan memasukkan pertentangan timur dan barat. Para perempuan yang memilih mempertahankan jilbabnya ’terpaksa’ bunuh diri untuk menjaga kehormatan mereka. Sementara mereka yang melepas jilbabnya justru diintimidasi dan diteror kaum agamawan konservatif.

Membaca novel Pamuk ini mengingatkan kita pada negeri sendiri. Pada zaman orde baru kita pernah disuguhkan kebijakan kontroversial yang melarang anak-anak sekolah mengenakan jilbab. Sama dengan di Turki pada masa orde baru anak-anak perempuan yang memilih mempertahankan jilbabnya akan dikucilkan dari sekolah bahkan dikeluarkan. Para perempuan-perempuan belia yang mempertahankan jilbabnya itu akan dituduh sebagai oknum yang telah dipengaruhi anasir-anasir Revolusi Irannya Ayatullah Khomeini. Maklum saja, Orde baru memang sangat alergi dengan ’revolusi.’ Meski Soeharto-pun akhirnya tumbang oleh ketakutannya sendiri; gerakan massa (baca: revolusi).

Zaman memang telah berubah. Tapi pakaian bisa saja dipolitikkan. Buktinya, hari-hari ini kita menyaksikan kebijakan-kebijakan sekolah di sebagian daerah (dengan semangat otonomi-nya) ’mewajibkan’ siswa-siswa perempuan untuk mengenakan jilbab selama bersekolah atau beraktivitas di lingkungan sekolah. Kita seakan sedang menyaksikan upaya penyeragaman atas dalih ’agama.’ Barangkali awalnya hanya pakaian yang diseragamkan, tapi lama-lama otak dan hati anak-anakpun dipaksa seragam untuk kepentingan negara. Dan korbannya paling banyak memang perempuan. Karena itu Pamuk dalam Snow menegaskan dengan satir; laki-laki tidak takut pada kecerdasan perempuan. Laki-laki hanya takut pada kebebasan perempuan.

Bagian akhir novel ini ditutup dengan adegan teater berjudul Tragedi di Kars yang terinspirasi dari The Spanish Tragedy karya Thomas Kyd. Dalam babak akhir teater ini diceritakan tentang Kadife yang melepaskan jilbabnya diatas panggung. Larangan dan argumen-argumen Sunay yang bereran sebagai politikus Islam garis keras mengenai betapa bahayanya melepaskan jilbab ditepisnya. Kadife benar-benar melepaskan jilbabnya. Tak hanya itu. Ia juga menembak Sunay dengan pistol kirikkele.

Tapi sebagaimana umumnya cerita realis, novel ini tidak menyuguhkan tokoh utama sebagai pemenang. Justru Pamuk menyeretnya dalam lipatan konflik yang tak berkesudahan. Dan dikemas dengan jalinan politik, sosial, budaya, thriller yang apik. Pantas saja Novel terakhir Pamuk ini (diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai Snow, 2004), meraih Prix Midicis untuk Novel terjemahan terbaik yang terbit di Perancis pada 2005. Sungguh novel yang layak dibaca!

Jumat, 20 Maret 2009

Krisis Buku Baru, Ah Nggak Juga!

Krisis Buku Baru? Ah..Nggak Juga!

Sejatinya saya bukanlah penulis resensi buku yang konsisten. Awal mula meresensi buku sebenarnya karena ikut-ikutan. Dibanding penulis resensi lainnya, saya pantai dogolongkan penulis resensi buku yang masih bayi. Baru mulai menulis resensi pada medio 2007. Sebagai penulis resensi yang angin-anginan, wajar jika kemudian kerap ‘kehabisan buku.’

Bahkan awal 2009 ini stok buku baru saya habis. Sebelumnya saya memang rutin belanja satu dua buku ke Surabaya (jika ada waktu). Buku baru yang saya beli itu kemudian saya resensi dan dikirim ke media massa. Ada yang dimuat. Tapi banyak juga yang ditolak (maklum amatiran).

Parahnya lagi, tahun ini saya benar-benar tak punya waktu untuk membeli buku baru apalagi menulis resensi buku ke koran. Saya justru lebih sering menulis opini (walaupun nasibnya kurang lebih sama; ada yang dimuat, banyak yang ditolak. He..). disamping itu kegiatan rutin juga mulai padat.

Namun bukan berarti di kampung saya tidak ada toko buku. Setidaknya ada dua toko buku yang masih ‘bertahan’ (sebenarnya ada tiga, tapi yang satu ini sudah kolap). Tapi jarang menyediakan buku-buku terbitan terbaru. Yang ada justru buku terbitan lama, tapi baru aja nangkring di etalase toko buku itu.

Sebenarnya pada Februari lalu, saya sempat juga keluar kota. Tepatnya ke Sukoharjo, Jawa Tengah, menghadiri pernikahan Adik saya. Rencananya sih, mau sekalian belanja buku. Tapi kegiatan yang padat membuat saya lupa pada rencana itu.

Karenanya ketika kawan saya Nurani Soyomukti, mengirimkan sms perihal buku barunya yang telah beredar di pasaran, saya langsung ‘mengemis’ agar dikirimi buku gratis. Lama saya tunggu, ternyata sms saya justru tak berbalas.

Tapi syukurlah kondisi ini tidak berlangsung lama. Pada awal Maret, saya mendapatkan kiriman buku baru dari INSIST PRESS dan RESIST BOOK. Buku tersebut antara lain;



1. Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis, karya David Harvey, (Yogyakarta: Resist Book, Januari 2009)
2. Memahami Teori Kritis, karya Stuart Sim dan Borin van Loon (Yogyakarta: Resist Book, Desember 2008)
3. Art Under Pressure; Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi, karya Joost Smiers (Yogyakarta; Insist Press, Pebruari 2009)
4. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, karya Mansour Fakih (Yogyakarta; Insist Press, Januari 2009)

Tentu saja buku-buku diatas tak datang dengan sendirinya. Juga tak akan datang meski anda berdo’a siang malam hingga kurus dan berjambang. Buku-buku tersebut buah dari proses saya dalam menulis resensi buku di media massa. Sekedar diketahui buku pertama yang saya resensi (dan dimuat di media massa) adalah buku terbitan Insist Press. Atas saran dari beberapa kawan yang pernah menulis resensi kliping resensi buku kemudian saya kirim pada penerbit. Dan sejak itu pula tiap kali Insist Press menerbitkan buku baru, saya mendapatkan "jatah" (Meskipun saat ini saya mulai jarang menulis resensi buku untuk Insist)

Tapi jangan senang dulu. Memang bisa dikatakan kiriman buku itu sebagai tanda terima kasih telah mempromosikan buku milik penerbit. Seperti Penerbit Resist misalnya. Menurut pengalaman saya, Resist tidak akan mengirimkan buku baru, jika anda tidak mengirimkan kliping resensi buku terbaru yang dimuat di media. Boleh jadi pandangan saya tentang penerbit berlambang api ini keliru. Sebab, menurut cerita kawan-kawan, tiap-tiap penerbit-penerbit telah memiliki peresensi-peresensi tetap yang selalu dikirimi buku baru. Bahkan kadang honor, jika resensinya berhasil tembus media nasional.

Jujur saja saya belum pernah mendapatkan perlakukan istimewa semacam dari penerbit (pengen juga sich, tapi kapan ya?). Namun yang pasti tiap anda mendapatkan buku baru dari penerbit anda sebenarnya secara tidak tertulis telah memulai kontrak kerjasama antara penerbit dan peresensi agar terus mempromosikan buku-buku tersebut. Karena itulah, melalui blog ini saya juga ‘mencoba’ melakukan hal yang sama. Berterima kasih telah mendapatkan buku-buku baru sekaligus mengenalkan buku-buku baru tersebut pada pembaca. Selanjutnya terserah anda. (Edy Firmansyah)

Selasa, 27 Januari 2009

Mendekonstruksi Ajaran NASAKOM Bung Karno




Judul Buku: “BUNG KARNO dan NASAKOM”

Penulis: Nurani Soyomukti

Penerbit: Garasi Book, Yogyakarta

Cetakan: I, November 2008

Tebal: xii+287 halaman

Peresensi: A. Zaenurrofik


DALAM sejarah perjalanan bangsa Indonesia, Soekarno adalah figur terpenting. Dia adalah peletak dasar kemerdekaan dan pencetus Pancasila, sang proklamator kemerdekaan, serta seorang ideolog yang mumpuni. Pidato-pidatonya mampu menggugah dan menggerakkan massa untuk mengikuti apa kebijakan yang harus ditempuh sang Presiden.

Karena sejak muda Soekarno sudah berkenalan dengan banyak budaya dan ideologi, tentu saja perjalanan hidupnya juga sangat mempengaruhi pemikiran ideologisnya. Dengan tujuan untuk mendekonstruksi ideologi Soekarno itulah, maka buku ini hadir. Buku yang berjudul “Soekarno dan NASAKOM” karya Nurani Soyomukti ini bisa jadi merupakan buku pertama yang paling komprehensif dalam mendedah bagaimakah pemikiran Bung Karno.

Jika buku ini adalah buku sejarah, tampaknya penulis merasa terbebani oleh ketakutan kalau-kalau saya tidak mampu menggambarkan sejarah secara objektif. Karena itulah, tampaknya memfokuskan pada pemikiran politik diambil semata-mata untuk menghindari penafsiran tentang sejarah riwayat hidup yang terlalu individualis. Dengan menghindari sejarah yang individualis penulis berharap dapat menghadirkan sosok Bung Karno dari kebesaran dan kekayaan pandangan ideologisnya yang radikal.

Karena itulah penulis berusaha untuk memilih ’enjel’ berupa sejarah perlawanan Bung Karno dan sejarah perlawanan rakyat, terutama sisi radikalnya. Penulis tampaknya tidak mau masuk ke wilayah-wilayah individual yang kadang memberikan citra negatif bagi tokoh itu. Dari buku-buku tentang Soekarno biasanya kita mendengar berbagai macam tuduhan dan cerita tentang sisi negatif Bung Karno, misalnya Bung Karno itu ”ngacengan” dan tak tahan jika melihat perempuan, Bung Karno pengecut dan antek penjajah Jepang, Bung Karno narsis, Bung Karno itu Jawa kuno yang suka mistik dan seperti raja-raja yang suka mengagung-agungkan diri, dan lain-lain, dan seterusnya.

Menekankan pada pemikiran ideologi Bung Karno tampaknya merupakan pilihan yang tepat. Dan itulah yang menyebabkan buku ini fokus dengan tema yang diangkat, dengan kemampuan eksplorasi yang menunjukkan kematangan penulis sebagai seorang intelektual muda yang konsisten dengan tema-tema ideologi politik dan gerakan sosial-politik. Penekanan pada pemikiran dan tindakan radikal anti-penjajahan asing itulah yang saat ini memang dibutuhkan; Ada baiknya kita menonjolkan berbagai kisah yang membuat mereka percaya diri dan menirunya. Fakta bahwa Bung Karno adalah tokoh radikal, Kiri, idealis dan romantis dalam dirinya yang terus berjuang diangkat secara nyata dalam buku ini.

Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) adalah tiga aliran yang disatukan oleh Bung Karno dan dianggap sebagai pemersatu—dan ideologi itu pulalah yang menjelaskan kenapa Bung Karno menjadi radikal sejak muda hingga tuanya. Di masa muda ia berkali-kali masuk penjara karena keberaniannya melawan penjajah. Di masa tuanya, terutama sejak akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an, ia justru menjadi lebih radikal lagi.

Yang berusaha ditelusuri oleh penulis adalah kenapa Bung Karno bisa menjadikan tiga ideologi yang berbeda menjadi saru kesatuan, pada hal di kalangan tokoh-tokoh lainnya tidak mungkin ketiga ideologi itu disatukan. Tentu hal itu tak lepas dari kepentingan Bung Karno serta latarbelakang hidupnya. Menelusuri berbagai macam literatur, maka diketahui bahwa Nasakom adalah ideologi yang melekat karena Soekarno memang bukan orang lain. Bung Karno adalah tokoh yang “sanggup mensintesis pendidikan secara modern dengan kebudayaan animistik purbakala dan mengambil ibarat dari hasilnya menjadi pesan-pesan pengharapan yang hidup dan dapat dihirup sesuai dengan pengertian dari rakyat kampung. Hasil dari semua ini dinamakan orang—dalam istilah biasa—Sukarnoisme” (hlm. 166).

Membaca dari awal hingga khir buku ini, akan kita dapatkan fakta yang tak terbantahkan bahwa Bung Karno tetaplah seorang yang radikal hingga menjelang akhir hayatnya. Ia tetap melihat ancaman imperialisme terhadap Indonesia—dan kemampuan itu tak dimiliki oleh para pimpinan negeri ini sekarang. Bung Karno adalah orang yang demokratis karena tidak hitam-putih dalam melihat persoalan. Cita-cita NASAKOM (Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme) adalah warisannya, wasiatnya, yang harus kita terima sebagai senjata pemersatu dan alat membangun negeri. Ketiga ide(ologi) itu adalah produk sejarah (perlawanan) bangsa ini sepanjang bangsa ini lahir dan terus saja berhadapan dengan penjajahan. Selama penjajahan ada, maka NASAKOM akan tetap menjangkiti kita—entah sadar atau tidak!

Memahami dan mempraktekkan nasionalisme secara benar, Islam secara benar, dan komunisme secara benar, serta tidak mempertentangkan antara ketiganya, akan menghasilkan energi atau kekuatan anti-penjajahan yang luar biasa. Tetapi, mempraktekkan ketiganya secara tidak benar, atau hanya memanipulasi ketiganya untuk kepentingan politik sempit, justru akan mempercepat bangsa ini menuju lubang pembantaiannya.

Saat ini kita menghadapi nasionalisme palsu dan sempit, nasionalisme untuk membohongi rakyat! Saat ini kita menghadapi Islam palsu dan sempit, yang hanya kelihatan wajah teroristiknya, formalitas kosongnya, hingga Islam politik yang berwajah memalukan! Saat ini kita berhadapan dengan orang-orang yang sok komunis dan menggunakan komunisme untuk menakut-nakuti di satu sisi, atau anak-anak muda yang sok komunis!

Maka, dengan memahami pikiran Bung Karno kita akan mengetahui siapakah nasionalis sejati, Islamis sejati, dan komunis sejati—yaitu mereka yang memiliki semangat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari tangan imperialis, yang menghormati perbedaan kepercayaan dan suku, yang tidak memaksakan cara-cara kekerasan yang tidak efektif, yang terlalu jauh meninggalkan kesadaran massa!

Pertama-tama, Nurani Soyomukti mengajak pembaca untuk memahami kontradiksi sejarah bagaimana perkembangan masyarakat Indonesia sebelum Bung Karno muncul dan saat Bung Karno hidup—alam penindasan dan penjajahan. Kedua, penulis menggambarkan bagaimana riwayat hidup Bung Karno, dari masa kecil hingga tua. Ketiga, penulis membawa pembaca pada inti dari apa yang ingin sampaikan dalam buku ini, yaitu konsep NASAKOM menurut Bung Karno. Dari uraian itu, jelaslah apa yang dipahami oleh Bung Karno tentang nasionalisme, Islam, dan Komunisme. Pembaca juga akan dibawa pada latarbelakang, baik objektif maupun subjektif, kenapa Bung Karno menawarkan konsep NASAKOM.

Maka kita akan memahami tesis yang ingin disampaikan Nurani Soyomukti dalam buku ini: karena Bung Karno anti-imperialis, atau setidaknya Bung Karno adalah orang yang mendefinisikan atau menyandarkan eksistensinya dengan cara menempatkan diri sebagai orang besar—dan untuk menjadi besar ia harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat (rakyat), kebutuhan rakyat adalah melawan imperialisme. Makanya, Bung Karno akan tetap dikenang rakyat karena kebesarannya.

=======================================
Tentang Peresensi
Ahmad Zaenurrofik, SH
; Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Surabaya; sedang menyusun tesis di Program Master Hukum di Universitas Negeri Jember.