WAKTU

KOLEKSI BUKU

Kamis, 17 April 2008

Humanisme Radikalistik (Dimuat di KORAN PAK OLES (KPO) Edisi 150, 16-30 April 2008)

Menuju Humanisme Radikalistik
Oleh : Edy Firmansyah*)

Judul : Revolusi Pengharapan: Menuju Masyarakat Teknologi
yang semakin Manusiawi
Penulis : Erich Fromm
Penerbit : Pelangi Cendekia, Jakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : xxv + 223 Halaman


Ada bahaya laten yang tengah membayangi kehidupan manusia. Bahaya itu bukanlah komunisme, bukan pula fasisme, melainkan “masyarakat yang telah sepenuhnya menjadi mesin” (a completely mechanized society) yang mendewakan produksi material dan konsumsi maksimal dibawah pimpinan Komputer. Masyarakat yang demikian pelan tapi pasti dibunuh daya hidupnya dalam kepasifan total akibat kecanduan konsumsi, sehingga menjadi manusia yang nyaris mati rasa.

Itulah warning Eric Fromm dalam bukunya Revolusi Pengharapan: Menuju Masyarakat Teknologi yang semakin Manusiawi. Ketika manusia sudah semakin mekanis, yang tertinggal hanyalah nafsu menguasai. Untuk mewujudkan ambisi tersebut, kekerasan kerap dijadikan pilihan. Makanya, jangan heran jika dalam a completely mechanized society kerusakan lingkungan akibat eksploitasi rakus manusia dan konflik antar golongan selalu menjadi masalah yang sulit dipecahkan.

Memang jalan satu-satunya untuk mengakhiri semua itu adalah perubahan. Namun Fromm mengingatkan agar pilihan perubahan tak jatuh pada revolusi radikal (baca: kekerasan). Sebab dengan revolusi tersebut keadaan justru akan bertambah runyam, karena seluruh sistem akan runtuh, dan yang tampil adalah kediktatoran militer atau fasisme. (hal. xiv). Itu artinya penderitaan rakyat semakin panjang karena kehilangan kedaulatan.

Dalam buku ini Erich Fromm menawarkan revolusi humanisme radikal sebagai solusi. Revolusi ini harus melibatkan banyak ideologi yang berbeda dan kelompok sosial. Setidaknya ada tiga tingkatan yang menjadi sasaran perubahan. Pertama, perubahan pola produksi dan konsumsi. Kedua, transformasi manusia, warga negara dan partisipan dalam proses sosial dari obyek-pasif yang secara birokratis termanipulasi menjadi pribadi yangaktif, kritis dan bertanggung jawab. Dan terakhir adalah rebolusi kultural, dimana menghancurkan keterasingan dan kepasifan yang menjadi ciri masyarakat teknologi, yakni dengan menggali potensi cinta dan akal budi sehingga mampu mengatasi fiksasi infantilis.(hal. 196).

Buku ini diterjemahkan dari edisi bahasa Inggris The Revolution of Hope – Toward a Humanized Technology, merupakan keprihatinan Fromm pada kondisi masyarakat industri modern di Amerika Serikat pada tahun 1968 yang makin tenggelam dalam reifikasi akibat dirasuki kapitalisme. Meski demikian analisa Fromm masih menunjukkan relevansinya, terutama di belahan dunia ketiga dimana dalam banyak hal kondisinya serupa dengan Amerika Serikat pada saat itu.

Kapitalisme yang menjadi sasaran tembak Fromm bukanlah kapitalisme Laisez faire seperti yang disyahadatkan Adam Smith mengenai persaingan bebas. Lebih daripada itu, kapitalisme disini, adalah tahapan lanjut Revolusi Industri, yakni revolusi Industri tahap II. Dimana bukan hanya energi hidup (hewan dan manusia) yang digantikan oleh energi mekanis, tetapi lebih dari itu otak manusia digusur oleh hadirnya otak-otak mesin.

Perkembangan selanjutnya, menurut Daniel Bell adalah proses produksi yang diarahkan pada pembuatan barang-barang yangdiselaraskan dengan hasrat pelepasan dan pemuasan diri tanpa kendali. Artinya semua keinginan manusia dipaksa tunduk pada kaidah pasar. Dalam pasar manusia dipaksa menjadi budak nafsu untuk memiliki apa saja dengan semakin menggila (baca; hedonisme).

Buku ini dibagi dalam enam bab. Bab pertama berbicara tentang masyarakat dalam belenggu industri, konsumerisme dan hedonisme. Bab kedua, bicara mengenai jebakan-jebakan kapitalisme dengan memanipulasi pengharapan manusia. Bab ketiga, Fromm meramalkan munculnya sebuah peradaban baru dengan memanusiakan kaum borjuasi menjadi borjuasi baru yang lebih manusiawi. Bab empat, Fromm bicara tentang hakekat kemanusiaan termasuk juga nilai-nilai dan norma manusia. Dalam bab ini digali secara detail tentang potensi manusia untuk tercapainya sebuah perubahan atau Revolusi pengharapan.

Pada bab lima, Fromm mengajukan strategi taktik menuju masyarakat tekhnologi yang semakin manusiawi. Sedangkan pada bab terakhir, ditawarkan sejumlah perubahan fundamental untuk menyelamatkan manusia dari modernisasi. Mungkinkah? Fromm optimis. Bahwa selalu ada harapan di dunia ini, sebuha harapan yang nyata—tidak utopis, bahwa perlawanan manusia terhadap kapitalisme akan melahirkan masyarakat tehnologi yang lebih manusiawi.***

TENTANG PENULIS
*Edy Firmansyah adalah Pengelola Sanggar Bermain Kata (SBK) Madura. kerani di www.kelanabuku.blogspot.com




Tidak ada komentar: