WAKTU

KOLEKSI BUKU

Sabtu, 22 Maret 2008

Dicari: Intelektual Progresif!


Dicari; Intelektual Progresif!
Oleh: Nurfa Rosanti


Judul : Jadilah Intelektual Progresif!
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book, Yogyakarta
Cetakan : I, September 2007
Tebal : v + 133 Halaman



Tak salah kiranya jika Amin Rais menyindir sikap kaum intelektual akhir-akhir ini ibarat kancil pilek. Seekor kancil yang meskipun dalam hikayat dikenal dengan binatang yang pintar, tetapi bila sedang pilek, tidak mampu mencium bau busuk yang ada di sekitarnya. Betapa tidak, beratus-ratus pemuda ’istimewa’ yang berhasil terserap dalam dunia pendidikan bernama perguruan tinggi, beratus-ratus sarjana telah pula dilahirkan dari rahimnya.

Tapi ketika korupsi telah menjangkiti semua orang yang berada di tubuh birokrasi, ketika harga kebutuhan pokok mencekik rakayat miskin, serta biaya sekolah kian hari kian mahal, kaum intelektual itu hanya diam beribu bahasa. Parahnya lagi, tak sedikit diantara mereka yang turut larut dalam korupsi dan menjadi semakin elitis.

Padahal sejatinya seorang intelektual (baca; terpelajar, terdidik) tidak sepantasnya berdiam diri ketika terjadi kesewenang-wenangan. Seharusnya mereka mau dan bisa menggerakkan perlawanan. Dari tangan intelektual semacam itulah nantinya bakal lahir pahlawan-pahlawan yang cukup tangguh dari masyarakat untuk memerintah membimbing masyarakat. Dengan kata lain menurut Ali Syariati, tanggung jawab pokok seorang intelektual adalah mengetahui, memahami dan mengenal dengan baik kondisi masyarakat sekitarnya untuk kemudian menanamkan dalam alam pikiran publik semua konflik, peertentangan dan antagonisme yang ada dalam masyarakat.(Hal.09)

Nah, lewat buku ini Eko Prasetyo mencoba menyadarkan kembali peran dan tugas kaum intelektual yang paling mendasar, yakni menegakkan kembali ideal masyarakat yang selama ini hanya ada dalam kisah-kisah dongeng. Berbekal kepustakaan yang beragam, buku ini berusaha menampilkan kembali sosok intelektual-intelektual progresif beserta serpihan-serpihan pemikiran yang dihubungkan langsung dengan kondisi kekinian yang menimpa kita. Para intelektual itu adalah Che Guevara, Sayyid Qutb, Ali Syariati, Antonio Gramsci dan Rosa Luxemburg.
Dipilihnya tujuh intelektual progresif itu bukan tanpa alasan. Semua intelektual diatas merupakan sosok intelektual ideal. Yang tidak takut terhadap kematian, penderitaan, dan tidak ngiler ketika dihadapkan dengan kemasyuran demi memperjuangkan tiga tuntutan besar; keadilan, persamaan dan penghapusan kemiskinan. Antonio Gramsci karena kegigihannya berjuang harus rela mati dipenjara; Sayyid Qutb dihukum gantung; Ali Syariati yang ditusuk pisau; Che Guevara yang meregang jawa oleh peluru pasukan Bolivia dan Rosa Luxemburg yang dipukuli kepalanya berulang-ulang oleh musuh dan akhirnya ditembak dengan keji (hal.17). Tapi semua penderitaan itu tidak selangkahpun menyurutkan niat mereka menyadarkan massa mengenai penindasan dan menggelorakan sebuah perlawanan.

Seakan-akan penulis buku ini hendak menunjukkan pada publik bahwa intelektual semacam inilah yang dibutuhkan negeri ini. Negeri yang diakuasai para koruptor, negeri yang kualitas pendidikan paling rendah, negeri terus menghamba pada negara lain, negeri para budak tentu membutuhkan intelektual-intelektual yang maju untuk menyadarkan masyarakat bahwa semua penderitaan itu akan berakhir jika segenap lapisan masyarakat bergandengan tangan melakukan perubahan.

Hadirnya buku ini sungguh tepat ditengah mandeknya kelahiran intelektual-intelektual progresif di negeri ini. Sekolah (baca: Perguruan Tinggi) yang sejatinya mampu menjadi rahim bagi para intelektual yang berpihak pada rakyat kini tak lebih dari seonggok meja. Usaha untuk mencangkokkan berbagai mata pelajaran berbelok hanya sebatas penumpukan informasi. Parahnya lagi, industri pendidikan diperlemah oleh dunia pasar yang yang menjadikan pengetahuan tak lebih dari barang konsumsi. Pasar dengan antusia menyambut sebua perubahan praktek kurikulum untuk dicocokkan dengan kebutuhan maupun modus prduksi yang sedang berjalan.
Akibatnya yang lahir bukan intelektual-intelektual yang gandrung akan perubahan. Melainkan intelektual-intelektual yang mati kesadaran kritisnya. Survei, Riset, penelitian dan penulisan yang jadi kegiatan intelektual hanya digunakan tak lebih untuk memerankan fungsi pemasaran dan menjilat-jilat kekuasaan. Hasil kerja intelektual yang demikian menurut Daniel Dhakidae tak lebih dari sekedar kerajinan tangan.

Padahal pada masa pra kemerdekaan negeri ini mencatat banyak kaum intelektual yang prorakyat yang lahir dari rahim dunia pendidikan. Sebut saja misalnya, Tan Malaka, Soekarno, KH. Agus Salim, Syahrir, Tirto Adhi Suryo, Mas Marco, dan banyak lagi. Mereka mendedikasikan pengetahuan yang mereka dapat dari bangku sekolah untuk kepentingan masyarakat, untuk menggagas kemandirian dan kemerdekaan sebuah bangsa meski penjara dan kematian dari pihak kolonial terus menjadi ancaman setiap jengkal langkah mereka.

Di tengah korupsi yang menjalari semua orang yang berada dalam tubuh birokrasi, di tengah melonjaknya angka kemiskinan dan pengangguran, di tengah kebohongan negara dan elitnya terhadap rakyat yang semakin menjadi-jadi, di tengah kelaparan dan gizi buruk yang menyerang, rakyat butuh sandaran yang kuat. Dan tentu saja bukan pada mereka yang menggunakan kepintaran untuk menghambakan diri pada pasar; membuat riset, angket dan poling untuk mendukung pembangunan mall dan mengiyakan penggusuran.

Melainkan intelektual yang bernyali serta mampu untuk mendekat dengan cita rasa keadilan, pengorbanan dan keberpihakan pada yang lemah. Dan buku ini merupakan sebuah pintu gerbang menuju itu semua.*

*) Resensi ini dimuat di Koran Pak Oles (KPO), Edisi 15-30 Januari 2008


TENTANG PENULIS
*) Nurfa Rosanti adalah Anggota Sanggar Bermain Kata. Pengajar di SMP Darussyahid Sampang Madura.

Tidak ada komentar: